Urgensi Sensitivitas Difabel dalam Republik

sebuah alterego

Lupa kalau punya tulisan ini. Dan baru diposting sekarang, selamat menikmati 🙂

Perjuangan kaum “penyandang cacat” Indonesia hari ini yang terus disuarakan oleh komunitasnya sendiri maupun pihak yang berkepentingan lainnya, dirasa belum menemukan hasil yang memuaskan. “Penyandang cacat” masuk dalam salah satu kelompok rentan, selain anak, perempuan, buruh migran, masyarakat adat, kelompok minoritas keagamaan, dan lainnya. Usaha untuk mengubang istilah “penyandang cacat” menjadi “difabel” (merupakan singkatan dari differentabilities) pun masih menemui jalan panjang. Istilah “penyandang cacat” masih sering digunakan oleh masyarakat, bahkan pemerintah untuk menyebut sekelompok masyarakat yang memiliki gangguan, kelainan, kerusakan atau kehilangan fungsi tubuh. Pemerintah bahkan menggunakan istilah itu secara resmi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.

Mengapa penting untuk mengubah istilah penyandang cacat menjadi difabel? Penyandang cacat adalah sebuah konstruksi sosial yang mendiskriminasi orang yang mempunyai ganguan dalam fungsi fisiknya. Konstruksi sosial masyarakat sudah terlanjur membedakan yang “cacat” dan “tidak…

View original post 1,548 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s