Mahasiswa Tukang Teriak

Petrus Richard Sianturi

Di era reformasi, pemandangan demonstrasi yang anarkis, yang membuat kemacetan parah, pendemo bentrok dengan polisi, pengerusakan fasilitas publik, pembakaran ban, penghancuran kantor-kantor pemerintah dan aksi saling lempar batu, menjadi konsumsi masyarakat hampir setiap hari. Kegiatan yang sering mengatas-namakan kepentingan rakyat semacam itu sebenarnya malah merugikan masyarakat alias tidak ada gunanya sama sekali. Malahan masyarakat semakin muak dengan mereka-mereka yang melakukan tindakan itu.

Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa seringkali, tindakan semacam itu justru dilakukan oleh mahasiswa. Jika sebatas mereka turun ke jalan sambil memakai baju almamater kampus mereka lalu mulai menyampaikan aspirasi tentu tidak masalah selama dilakukan dengan tertib, tidak menganggu orang yang lain dan tidak melanggaran peraturan yang berlaku. Di Negara yang menjunjung demokrasi, hal ini sangat bisa diterima.

Namun begitu, apakah perlu mahasiswa sebagai mahasiswa terdidik di lingkungan kampus dengan diakuinya budaya berpikir kritis dan nalar yang logis menyampaikan aspirasi dan pendapat mereka dengan cara berdemonstrasi, apalagi yang anarkistis?…

View original post 591 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s